Sakit Hati, Tersangka Terancam Hukuman Mati


Rachmad dummy editor    29 August 2017 (04:51)   HUKRIM
img

Sakit Hati, Tersangka Terancam Hukuman Mati

Polres Mojokerto tak membutuhkan waktu lama untuk menangkap, Saiman (SM), 55, pelaku pembunuhan sadis pasangan suami istri (pasutri) siri, Komariah, 44, dan Ahmad Wiyono, 50. Tim Resmob Satreskrim berhasil membekuknya di Kabupaten Sampang, Madura, Senin (21/8) malam.

Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata mengatakan, pasca peristiwa pembunuhan di Dusun Tambaksuruh, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, pihaknya langsung melakukan pengejaran terhadap tersangka yang berprofesi sebagai tukang becak itu. ”Tim berangkat ke tempat mangkalnya di Stasiun Semut, Surabaya, namun tersangka tidak ditemukan,” ungkapnya Selasa (22/8).

Selanjutnya, pencarian dilanjutkan ke tempat tinggal tersangka, di Desa Meten, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura. Dengan dibantu tim Resmob Polres Sampang, petugas akhirnya bisa meringkus tersangka yang tak lain adalah masih berstatus sebagai suami sah Komariah.

Tersangka ditangkap tanpa perlawanan di Jalan Raya Desa Bucin, Kecamatan Rapah, Sampang, saat hendak menuju rumahnya. Leo sapaan akrab Leonardus Simarmata mengungkapkan, berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan tersangka, Saiman merupakan pelaku tunggal. ”Sampai saat ini, yang bersangkutan (Saiman, Red) adalah pelaku tunggal, tidak ada yang membantu,” ulasnya.

Dia menjelaskan, sebelum kejadian, tersangka berangkat dari Surabaya ke Mojokerto dengan menumpang bus umum. Sesampainya di Terminal Kertajaya Mojokerto, tersangka kemudian menyewa ojek untuk menuju rumah korban di Dusun Tambaksuruh, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri. ”Tersangka datang dari Surabaya sudah membawa celurit yang diselipkan di pinggang,” terangnya.

Tersangka kemudian meminta turun dengan mengambil jarak beberapa meter dari rumah korban. Kemudian dia masuk dengan cara mendobrak pintu. Dengan waktu sekitar 10-15 menit tersangka sudah menghabisi dua nyawa dengan menebaskan celurit ke tubuh kedua korban hingga beberapakali. ”Sangat singkat, hanya beberapa menit. Gedor pintu langsung menebas istrinya (Komariah, Red) dan korban laki-laki (Wiyono, Red),” paparnya.

Kedua korban tewas di tempat kejadian perkara (TKP). Sesaat setelah kejadian, tersangka kembali ke tukang ojek untuk mengantarnya kembali ke stasiun Mojokerto. Leo belum bisa memastikan adanya keterlibatan tukang ojek yang mengantarnya tersebut. Mengingat, hingga saat ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. ”Masih terus kita dalami,” tuturnya.

Tersangka kemudian kembali ke Surabaya dengan mengendarai bus umum. Namun, dari pengakuan Saiman, senjata tajam dan jaket parasit yang dikenakan saat mengeksekusi kedua korban dibuang ke Sungai Brantas di kawasan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Sedangkan, untuk motif pembunuhan tersebut dilatarbelakangi asmara. Pasalnya, tersangka merasa cemburu karena secara statusnya Komariah masih tercatat sebagai istri sah tersangka. Akan tetapi, dia mengetahui kalau istrinya tersebut diam-diam telah menikah secara siri dengan pria lain, yakni Ahmad Wiyono, pria asal Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari. Tepat di tengah saat keduanya tengah berpisah ranjang.

”Dari keterangan saksi, pernah ada penyampaian beberapa hari sebelumnya korban akan dibunuh,” ujarnya. Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider 338 KUHP dan atau pasal 44 ayat (3) UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). ”Ancamannya hukuman mati atau seumur hidup,” pungkas Leo.

KOMENTAR