Ribuan Sumur Warga Jetis Diduga Tercemar Limbah B3


Rachmad dummy editor    29 August 2017 (04:44)   LINGKUNGAN
img

Sumur milik ribuan keluarga di lima dusun di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto diduga tercemar  limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari sebuah pabrik pengolahan limbah yang berdiri di desa tersebut. Pasalnya sejak setahun terakhir, air sumur milik warga berasa, berwarna dan berbau sehingga tak layak konsumsi.‬

Salah satu warga yang air sumurnya tercemar, Muhammad Yasin (44) warga Dusun Kedung Palang, Desa Lakardowo mengatakan, sejak satu tahun lalu, air sumur berubah warna kekuning-kiningan, berbau busuk dan terasa getir. "Tidak hanya air di sumur saya saja tapi warga lain serta dusun lainnya yang air sumurnya terasa seperti ini," ungkapnya, Senin (18/01/2015).

Masih kata Yasin, ada yang berwarna kekuning-kuningan, ada yang kecoklat-coklatan serta terdapat endapan warna hitam dan bau yang menyengat. Jika dikonsumsi sebagai air minum, Yasin menjelaskan, rasanya sudah tidak tawar lagi seperti air di sumur pada umumnya, ada rasa getir. Menurut Yasin, perubahan air sumur warga itu terjadi sejak berdirinya pabrik pengolahan limbah B3 di Desa Lakardowo, PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA).

Pabrik yang berjarak sekitar 250 meter dari Dusun Kedung Palang itu mengolah berbagai jenis limbah B3. Mulai dari limbah pabrik kertas, limbah kimia cair, limbah batu bara, hingga limbah medis.‬ Menurutnya, limbah B3 dari pabrik-pabrik lain dikubur dalam lubang sedalam 10-15 meter kemudian meresap ke air sumur dan sawah milik warga.

Selain Kedung Palang, lanjut Yasin, air sumur yang tercemar terdapat di empat dusun lainnya di Desa Lakardowo. Yakni Dusun Sambigembol, Kedung Bulu, Sumber Wuluh dan Lakardowo. Tak hanya membuat air sumur warga tak layak untuk dikonsumsi, pencemaran yang diduga berasal dari PT PRIA itu juga membuat beberapa penyakit aneh menyerang warga.

"Masuk musim hujan begini banyak warga sini yang kakinya bengkak, mendadak lumpuh, hingga sakit-sakit pada persendian tubuh dan gatal-gatal usai menggarap sawah karena limbah pabrik yang tumpah ke sawah warga. Sebelum berdiri pabrik disini, air sumur warga normal, warnanya juga jernih dan tidak berbau," ujarnya.

‪Seperti yang dialami anaknya, Muhammad Wahyu Zakariya (9). Bocah kelas 3 sekolah dasar ini mendadak tak bisa berjalan, untuk aktivitas sehari-hari ia harus memakai alat bantu jalan.‬ "Sakitnya sejak 4 bulan lalu. Persendian tangan dan kaki sakit semua, dia anak pertama saya," jelasnya.

‪Sementara warga lain, Sulastri (36) mengaku terpaksa membeli air isi ulang untuk masak dan minum keluarganya.‬ "Untuk masak dan minum beli air galon, air sumur hanya untuk mandi dan mencuci baju. Takutnya nanti kena penyakit soalnya air sumur sudah berubah begitu," tuturnya.‬

‪Warga berharap kepada pemerintah (Pemkab Mojokerto, red) agar segera turun tangan untuk menutup pabrik pengolah limbah B3. Warga juga meminta agar limbah yang ditanam di dalam tanah segera digali kembali dan dibuang ke tempat lain dengan harapan tanah bisa kembali normal seperti sebelumnya.

KOMENTAR