Derajat Pencemaran di Surabaya Terus Bertambah


Rachmad dummy editor    29 August 2017 (04:42)   LINGKUNGAN
img

Derajat Pencemaran di Surabaya Terus Bertambah

Dari waktu ke waktu potensi tingginya derajat pencemaran di Kota Surabaya terus bertambah, hal ini terlihat dari sumber pencemarannya telah mengepung lingkungan dari pusat hingga pinggiran kota.

Hal tersebut yang diungkapkan Ir. Musdiq Ali Suhudi, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkot Surabaya saat menjadi pemateri tunggal pada kuliah pakar kesehatan pengelolaan lingkungan hidup Kota Surabaya, di ruang Serbaguna Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari yang diselenggarakan Prodi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu (13/1/2015).

"Sumber perusak lingkungan ini terus bertambah,meskipun telah dilakukan penekanan limbah juga masih akan tetap bahkan bisa bertambah tinggi, Jangankan dibawah pencemaran, rekadaya yang ada sulit sejajar dengan terus membumbungnya pencemaran," Ujar Musqid.

Seperti Industri yang ada di Surabaya yang terletak di beberapa kawasan, diantaranya di margomulyo, Tandes, Rungkut dan lainnya yang kesemuanya tidak diatur satu perusahaan. Dari Pabrik-pabrik itu memberikan kontribusi pencemaran air maupun udara. Kondisi ini diperparah semakin banyaknya industry rumahan (home industry). Rumah hunian atau tempat tinggal yang ada banyak yang berubah untuk produksi yang menghasilkan limbah cair, masuk ke saluran air.

“Rumah yang dipakai untuk usaha pewarnaan jeans, misalnya. Pewarnaan ini sepertinya sederhana, tapi air limbahnya berbahaya. Biasanya itu tidak memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah),” ungkapnya.

Air limbah masuk ke saluran tersier di pemukiman, hingga akhirnya bermuara ke sungai besar. Termasuk aliran kali Surabaya yang sudah tercemar dari hulu ke hilir. Celakanya, air kali itu menjadi sumber air baku Perusahaan Air Minum daerah (PDAM) Surya Sembada Surabaya.

Selanjutnya, Sumber pencemaran lain adalah hotel yang jumlahnya terus bertambah. Karena badan yang dipimpinnya juga masuk tim perizinan, sehingga pihakya mengetahui intensitas penambahan hotel di Kota Pahlawan.

“Hotel di Surabaya dalam lima tahun ini pertambahannya luar biasa. Tiap minggu ada pengajuan izin pembangunan hotel. Dalam setahun ada 50 hotel (baru) mulai tidak berbintang sampai berbintang. Tahun 2005 ke bawah jumlah hotel sedikit. Sekarang menyebut atau mendengar nama hotel belum tentu tahu lokasinya,” ungkapnya.

Selain itu, Bertambahnya rumah sakit (RS), lanjut Musdiq Ali, tidak kalah dengan hotel baru. Demikian halnya dengan apartemen baru di Surabaya, pesat penambahannya. “Semua itu menghasilkan limbah. Sumber-sumber pencemar semakin mendekati kawasan perumahan,” tandasnya.

Menjamurnya usaha cuci baju (laundry) menambah banyak jumlah penghasil pencemar. Air cucian mengandung detergent dibuang begitu saja ke saluran kampung. Celakanya, tidak mudah mendata jumlah laundry.

Laris-manisnya usaha jasa ini tidak luput dari gaya hidup. Keluarga lebih memilih mencucikan baju kelaundry. Hasil usaha ini besar, namun mayoritas tidak memiliki IPAL.

Belum lagi bengkel cuci kendaraan yang air cuciannya tidak jarang mengandung oli atau solar. “Belum lagi industri-industri lama yang masih berada di dekat pemukiman. Di Rungkut Alang-Alang (Kalirungkut), Panjang Jiwo masih banyak pabrik. Kalau industri di Jalan Ngagel, seperti PT Barata, Iglas, semua sudah pindah,” paparnya.

“Sumber air baku PDAM 90 persen memakai air Kali Surabaya yang menampung air dari aliran-aliran kecil (di kampung). Air PDAM tidak layak minum, layak untuk mandi. Ditambah kondisi pipa PDAM yang lama,” Musdiq menguatkan luar biasanya pencemaran di wilayah kota.

Keberadaan rumah makan baru yang jumlahnya signifikan di Jalan Kertajaya disebut Musdiq merupakan sumber lain pencemar. Rata-rata tempat usaha kuliner itu tidak memiliki IPAL dengan alas an lokasinya kontrak.

Musdiq menunjukkan foto-foto kondisi aliran di sekitaran Jalan Kertajaya, Dharmawangsa maupun Dharmahusada yang tersumbat karena lemak atau minyak yang menggumpal.

Cukup itu sumber pencemaran yang ada?. Banyak lainnya yang tidak luput dibeber oleh Musdiq. Keberadaan motor di Surabaya sekarang ini dia prediksi ada 7 juta unit. Belum motor yang masuk dari luar kota. “Jumlah motor dua kali lipat dari penduduk Surabaya. Jumlah mobil tahun 2011 lalu 971 ribu. Sekarang jumlah mobil estimasinya 1,3 juta unit. Pertumbuhan jalan 0,5 persen per tahun. Akibatnya macet, pencemaran (udara) karena emisi gas buang tinggi,” katanya.

Belum lagi sampah rumah tangga yang tonase per hari mencapai 8 ton. Untuk sampah infeksius yang dihasilkan RS menambah panjang daftar masalah lingkungan.

"Tidak semua RS memiliki incinerator. Banyak rumah sakit tidak mempedulikan rekanan pembuang limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Rekanan tidak memiliki angkutan khusus hingga tidak memperpanjang izin usaha," pungkasnya.

KOMENTAR